Socfindo Seed Production


SEJARAH PEMULIAAN

 
Program pemuliaan adalah proses percobaan untuk menghasilkan tanaman yang memiliki kualitas genetis yang lebih tinggi. Sejak tahun 1913, program pemuliaan PT Socfindo yang saat itu masih bernama SOCFIN SA telah dimulai. Pohon induk dura yang ditanam di kebun raya Bogor ditanam di kebun Sei Liput, yakni di Seumadam, Tj. Genteng dan Medang Ara.
 
Proses seleksi dimulai sekitar tahun 1920 dengan penanaman 17 pohon dura dan 8 tenera di Kuala Krapuh. Tanaman pertama kelapa sawit hasil penyerbukan buatan ditanam pada awal 1927 di Mopoli. Pada saat yang sama, 8 famili diseleksi dari introduksi tenera yang diimpor dari Africa (Democratic Republic of Congo), dan ke-8 projeni hasil penyerbukan tersebut ditanam di Padang Pulo, kabupaten Asahan. Persilangan antar famili kelapa sawit terus dilakukan antara dura dan tenera terbaik dan hasil persilangan sesuai ditanam di Mopoli, Sungei Liput. 
 
Antara 1933 sampai 1936, pohon induk dura terbaik mulai dipersilangkan secara selfin, juga beberapa dura dan tenera terbaik di kebun Padang Pulo dan hasilnya ditanam di Bangun Bandar, Serdang Bedagai, Generasi yang lain juga diciptakan dari kombinasi induk terbaik di Mopoli dan induk dengan produksi tertinggi dari Bangun bandar. Hasil kombinasi tersebut kemudian ditanam di bangun Bandar sekitar tahun 1939 – 1940 dan 1942 – 1943. Perlu dicatat bahwa progam seleksi yang dilakukan di berbagai unit penelitian di Indonesia, dengan menggunakan material Deli dura  dilakukan secara independen.
 
Program seleksi untuk sementara dihentikan selama perang berlangsung pada 1940 dan baru dimulai kembali pada 1950 dengan penanaman generasi baru dura hasil selfing dan projeni dura x tenera. Sejak 1954 hingga 1957, tenera origin telah diperkaya oleh introduksi pollen dari induk pisifera di Pobé (Benin) dan dari hasil persilangan dura x pisifera dari INEAC dan persilangan AVROS. Seleksi secara massal terus dilakukan, memilih induk dan famili terbaik.
 
Pada 1968, PT Socfindo dibentuk dari hasil kesepakatan PNS Socfin SA dan Pemerintah Indonesia. Pada 1970, Socfindo memulai kerjasama dengan IRHO (Institut de Recherches pour les Huiles et Oleagineux) dalam program produksi seleksi dan benih baru. Tujuannya adalah untuk memperkirakan nilai-nilai hibrida yang ditanam dan mereproduksi yang terbaik diantaranya untuk penanaman masa depan. Inilah fase dimana pertama sekali metode RRS atau Reciprocal Recurrent Selection Scheme (Seleksi Berulang Timbal Balik)  diimplementasikan oleh Socfindo.
 
Antara 1973 sampai 1978, PT. Socfindo menanam beberapa uji projeni sebagai siklus pertama di kebun Bangun Bandar. Pokok Induk dipilih yang memiliki hasil yang baik dari populasi progeninya.
 
Rancangan persilangan disusun pada seleksi timbal balik induk Lame, dan blok genetik Aek Kwasan (Aek Loba Estate, Asahan, Sumatera Utara), yang terdiri dari 16 percobaan komparatif hibrida yang melibatkan 320 crossing yang berbeda, hal ini dirancang antara tahun 1975 sampai 1979. Semua percobaan ini ditetapkan dengan menggunakan desain statistika dan hasilnya dapat digeneralisir dengan membandingkannya dengan persilangan kontrol.
 
 
Antara 1979 sampai 1994, siklus kedua trial projeni di Bangun Bandar dilaksanakan. Perbaikan genetik yang substansial telah ditemukan dalam siklus seleksi kedua ini melalui pengurangan minimum keragaman genetik. Pada 1994, PT Socfindo bekerjasama dengan CIRAD pada program penanaman blok genetik kedua di Aek Loba (Proyek Aek Loba Timur) sebagai kelanjutan dari program sebelumnya. Persilangan yang diuji sebagian berasal dari Pobè dan didasarkan pada rekombinasi induk-induk terpilih. Proyek ini dilakukan sampai tahun 2000. 
 
Antara tahun 2005 – 2009, bahan tanam yang diproduksi oleh PSBB sudah mulai didatangkan dari blok genetik Aek Kwasan I dan Aek Loba Timur. Pada saat yang bersamaan proyek Aek Kwasan II dimulai. Tujuan dari proyek Aek Kwasan II adalah untuk memastikan perkembangan potensi tanaman di PT Socfindo dan perkebunan pelanggan pada tahun mendatang. 
 
Dampak positif dari semakin meningkatnya kualitas efek bahan tanam pada tanaman komersial adalah produktivitas CPO dan Produk lainnya yang semakin meningkat.
 
 
 
 

 

AEK LOBA SEED PRODUCTION (ALSP)

 

Aek Loba Seed Production (ALSP) awalnya merupakan lokasi genetik blok atau blok-blok percobaan genetik untuk program pemuliaan PT. Socfin Indonesia selain di kebun Bangun Bandar. Proyek percobaan uji keturunan (Progeny Test) pertama di kebun Aek Loba ditanam pada tahun 1975 sampai dengan 1979 dengan nama Aek Kuasan Project. Pada project ini terdapat 16 percobaan dengan menguji 320 persilangan yang berbeda dari siklus ke dua IRHO dengan total luas percobaan di Aek Kuasan ini seluas 560 Ha.

Kemudian pada tahun 1995 hingga tahun 2000 ditanam kembali kebun percobaan di kebun Aek Loba dengan nama Aek loba Timur Project yang bekerjasama dengan CIRAD dan jaringan penelitiannya di dunia (Afrika dan Amerika latin). Luas kebun percobaan genetik (Progeny test) di aek Loba Timur Project ini seluas 600 Ha dengan total 28 percobaan dengan material yang diuji memasuki siklus ke 3 dari program pemuliaan PT Socfindo. 
 
Selanjutnya tahun 2005 hingga 2012 PT Socfindo kembali membangun kebun percobaan genetik untuk melanjutkan proses seleksi dan rekombinasi material–material terbaik yang dimiliki PT Socfindo serta menguji material-material koleksi yang dimiliki PT Socfindo. Kebun percobaan ini diberi nama Aek Kuasan II Project dengan total luas percobaan 450 ha yang terdiri dari 30 percobaan progeny test.
 
Selain  menanam kebun progeny trial, sejak tahun 2005 juga di kebun Aek Loba juga ditanam kebun benih (Seed Garden), kebun induk (parental garden) dan kebun koleksi (collection) dari plasma nutfah yang dimiliki PT Socfindo. Sampai dengan tahun 2015 ini sudah ditanam seed garden A (Dura) seluas 113,4 ha, seed garden B (Tenera/pisifera) seluas 49,6 ha, parental garden A (Dura) seluas 83,2 ha, parental garden B (tenera/pisifera) ha seluas 94,7 ha dan kebun koleksi seluas 56 ha.
 
Dengan ditanamnya kebun induk di Aek Loba, sejak tahun 2008 sudah dimulai kegiatan produksi benih di Aek Loba seed Production. Saat ini ALSP (Aek Loba seed production) memproduksi 55% dari total benih yang diproduksi PT Socfindo dengan jumlah tetua Dura yang digunakan untuk produksi benih sebanyak 3.981 pokok. Dengan fasilitas laboratorium buah kawinan (bunch Preparation laboratory) dan laboratorium pollen, ALSP saat ini hanya sampai pada produksi benih kering (Dry seeds) yang kemudian akan dikirim ke Bangun Bandar Seeds Production (BBSP) untuk proses perkecambahannya.
 
 
BANGUN BANDAR SEED PRODUCTION
 
 
Bangun Bandar Seeds Production merupakan salah satu unit bisnis produksi benih kelapa sawit PT. Socfindo yang berlokasi di Desa Martebing, kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Di Bangun Bandar Seeds Production (BBSP) inilah lebih dari 500 juta benih kecambah yang tersebar di berbagai belahan dunia diproduksi.
 
Saat ini BBSP memiliki beberapa fasilitas untuk proses benih atau kecambah yaitu ;
  1. Seed Garden (Kebun Induk), pohon induk dura yang digunakan untuk sumber benih sebanyak 863 pohon dan pohon pisifera sebanyak 273 pohon. Tenaga kerja yang bekerja di seed garden sebanyak 20 orang, yang terdiri dari pekerja polinator, pengumpul polen, quality control (QC), tim panen dan administrasi
  2. Laboratorium Preparasi Pollen, merupakan laboratorium untuk penanganan bunga jantan yang sudah dipanen dari lapangan, dan proses penyimpanan polen (bank of pollen) sampai persiapan polen untuk penyerbukan. 
  3. Germinator dan instalasi/unit proses tandan buah untuk pengolahan benih menjadi kecambah. Unit proses kecambah BBSP ini mampu memproduksi kecambah sebanyak 40 -50 juta butir. Di unit proses ini semua tandan buah yang diterima dari seed garden diproses sampai menjadi kecambah yang siap untuk dikirim ke konsumen.
  4. Laboratorium analysa minyak & janjang, merupakan laboratorium untuk proses analysa potensi minyak dan janjang untuk pendukung keperluan pemuliaan/breeding kelapa sawit. Di laboratorium ini juga dilakukan quality control untuk potensi dan loses pabrik kelapa sawit (PKS) Kebun Bangun Bandar.
 
Di BBSP ini, kecambah DxP Unggul Socfindo diproses dan dipersiapkan dengan teknologi benih dan sistem pengamanan yang terbaik. Semua data dan proses benih dilakukan dengan sistem / teknologi yang sudah terintegrasi dengan sangat baik. Semua data dan proses benih dari lapangan sampai dengan proses pengemasan bisa ditelusuri dan terjaga keamanannya, karena dilengkapi dengan sistem Barcode untuk semua proses, sehingga produk kecambah yang dikirim ke konsumen terjamin kualitas dan keamanan produk dari pemalsuan.
 
Semua proses produksi benih/kecambah kelapa sawit PT. Socfin Indonesia sudah menerapkan sistem manajemen mutu (ISO 9001:2008), kemudian Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001:2004), dan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OHSAS 18001:2007).
 
Jumlah tenaga kerja di Bangun Bandar seed production (BBSP) sebanyak 210 orang yang bekerja di semua unit produksi BBSP, seperti seed garden, laboratorium preparasi polen, Germinator dan unit proses tandan, perawatan, IT (komputer), dan administrasi. Jumlah tenaga kerja di BBSP ini sangat efektif dan efisien karena unit bisnis ini mampu memberikan keuntungan yang sangat besar bagi PT. Socfin Indonesia. Unit bisnis produksi benih (BBSP) dipimpin oleh seorang staff (Head of seed production & processing unit)  yang bertanggung jawab kepada Kepala Socfindo Seed Production & Laboratory (Head of Socfindo Seed Production & Laboratory (SSPL)).
 
Sortasi Kecambah

 

Pengendalian Kualitas Produksi Kecambah ( Quality Control )

 

Pada tanggal 12 Nopember 2001, Pusat Seleksi Bangun Bandar PT Socfin Indonesia (Socfindo) mendapatkan pengakuan oleh lembaga standarisasi internasional (ISO) dengan memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 sebagai pengakuan bahwa unit produksi benih unggul di Socfindo ini telah memenuhi standar manajemen mutu. Artinya, dalam memproduksi kecambah kelapa sawit yang berkualitas tinggi Socfindo telah menerapkan sistem manajemen mutu yang baku dan berelasi dengan tujuan pemenuhan kepuasan pelanggan. Kemudian pada tahun 2009, Socfindo kembali meng-upgrade sistem manajemen mutu di lingkungan PSBB dengan sistem ISO 9001:2008 dan ISO 14000:2007 untuk sistem manajemen lingkungan. Selanjutnya, dalam rangka pengembangan skala unit bisnisnya, pada tahun 2012, Socfindo mengubah nama Pusat Seleksi Bangun Bandar menjadi Bangun Bandar Seed Production (BBSP) dimana pada tahun 2014 Socfindo menggabungkan unit Bangun Bandar Seed Production (BBSP) dengan Aek Loba Seed Production (ALSP) dan unit bisnis laboratorium, sehingga terbentuklah grup usaha Socfindo Seed Production & Laboratory (SSP & L).
 
Socfindo dalam memasarkan produk benih unggulnya sangat memperhatikan setiap tahapan produksi benih untuk menjamin diperolehnya benih yang memenuhi kriteria. Adapun kriteria mutu benih yang dihasilkan yaitu:
  1. Persentase kecambahan tinggi
  2. Pertumbuhan tanaman yang homogen di bibitan
  3. Legitimasi material yang dihasilkan
 
Di Bangun Bandar Seed Production dan Aek Loba Seed Production proses pengolahan produk kecambah kelapa sawit dibagi ke dalam 3 tahapan proses, yaitu:
  1. Sungkup, penyerbukan dan pemanenan.
  2. Pengelolaan tandan sampai menjadi kecambah
  3. Pengelolaan tepung sari (pollen)

Pada proses produksi tandan buah kawinan dan preparasi pollen, setiap staf Socfindo memperhatikan 4 T :
  1. Tepat Sasaran, dimana pokok dura yang akan dikawinkan maupun pokok pisifera yang akan diambil polennya semua tepat tempat dan letaknya serta benar sesuai dengan kebijakan dari Bangun Bandar Seed Production.
  2. Tepat Waktu, sehingga akan diperoleh pembentukan buah ataupun kecambah yang sempurna dan mencegah terjadinya buah kawinan yang kedaluarsa
  3. Tepat Cara dan Steril, sehingga tandan buah yang sedang dikawinkan terhindar atau terkontaminasi dari polen-polen liar
  4. Tepat Pengawasan, sehingga dalam setiap tahap proses produksi kecambah akan didapati hasil yang baik dan murni.
Dengan fasilitas produksi benih yang lengkap dan maju, saat ini PT Socfindo mampu memproduksi kecambah kelapa sawit sebanyak 40 - 50 juta butir per tahun.

 

Tahapan Quality Control (QC) dalam proses perkawinan di lapangan (Kebun Induk)  sebagai berikut :

1.   QC  Satu hari setelah sungkup
2.   QC  5-9 hari setelah sungkup
3.   QC satu hari setelah serbuk
4.   QC 5-9 hari setelah serbuk
5.   QC satu hari setelah buka sungkup
6.   QC Sungkup
7.   QC Polinet
8.   QC Blanko
 
Tahapan Quality Control (QC) proses produksi di Laboratorium, sebagai berikut :
 
1.   QC Sortasi Benih
2.   QC Embrio
3.   QC Gudang / QC Kategori
4.   QC Stabilitas Suhu Ruang Pemanas Benih
5.   QC Sortasi Kecambah
6.   QC Pengemasan 
 
Dalam menjalankan kegiatan produksi kecambah kelapa sawit yang legitim, BBSP dan ALSP juga melakukan pengawasan secara ketat terhadap setiap pekerja dengan menggunakan CCTV online. Hal ini dilakukan demi mencegah terjadinya kecurangan - kecurangan yang dilakukan oleh pekerja. Sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya benih yang keluar tanpa prosedur yang benar. (admin).

 

 

 
STRATEGI PEMULIAAN KULTUR JARINGAN SOCFINDO
Oleh : Dadang Afandi, SP (Oil Palm Breeder PT Socfindo)
 
 
Untuk tahap awal, kegiatan kultur jaringan diutamakan untuk kegiatan breeding atau pemuliaan tanaman sawit di PT Socfindo. Ini dilakukan mengingat tanaman hasil klon yang berupa ramet dinilai masih terlalu mahal dan produksinya yang sangat lama dan terbatas oleh kapasitas laboratorium yang dimiliki. Belum lagi penanganan yang ekstra terhadap ramet, mulai dari transportasi hingga handling di pembibitan. Ini masih sangat sulit dilakukan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan yang ingin menanam tanaman sawit hasil klon di perkebunannya. Tetapi sulit bukan berarti tidak mungkin, karena itulah PT Socfindo menempatkan produksi tanaman klon komersial sebagai strategi jangka panjang sambil terus meneliti posibility untuk dapat dimanfaatkannya secara mudah tanaman sawit hasil klon oleh siapa saja dengan hasil yang stabil dan memuaskan. 
 
Program pemuliaan sawit PT socfindo telah dimulai sejak tahun 1913, dan saat ini telah mencapai siklus ke-3 dari pemuliaannya. Oleh sebab itu PT Socfindo memiliki banyak tanaman DxP atau Tenera terbaik (excelent tenera) di kebun percobaan progeny test (uji keturunan) sebagai kandidat untuk diperbanyak secara klonal. Hasil klon dari tenera-tenera terbaik tersebut akan ditanam dikebun  Socfindo dan diamati produksi dan karakter unggul lainnya, sembari mencari metode handling (penanganan) hasil tanaman klon yang efektif, efesien dan mudah diaplikasikan oleh siapa saja. Dari tanaman klon terbaik akan dipilih yang terbaik (produksi dan ketahanan terhadap penyakit) di kembali dikloning (reclone) untuk selanjutnya di komersialisasi (industrial production of ramets).   
 
Sembari melakukan klon dan pengujian terhadap tenera terbaik, Socfindo akan melakukan kloning terhadap tetua-tetua (Dura dan Pisifera) terbaik dari persilangan-persilangan terbaik (excellent cross) di progeny trial (kebun percobaan genetik). Strategi ini dilakukan untuk menghasilkan benih tanaman klon (clonal seeds). Benih tanaman sawit klon akan diproduksi dari persilangan tanaman yang salah satu tetuanya diperbanyak secara klonal yang kita kenal sebagai semi-clone seeds atau dengan melakukan persilangan dari tetua betina dan tetua jantan yang diperbanyak secara klon juga, yang kita kenal sebagai bi-clonal seeds. Kecambah semi-clone atau bi-clone akan lebih mudah untuk dikomersialisasi karena penanganannya yang sama persis seperti kecambah kelapa sawit umumnya. Dari segi produktivitas, kecambah semi-clone atau bi-clone tentunya akan lebih tinggi produksinya dibanding dengan kecambah persilangan konvensional karena selain induknya dipilih dari tetua terbaik, tanaman yang dihasilkan akan memiliki keseragaman yang lebih tinggi.
 
Untuk kegiatan pemuliaaan, teknologi kultur jaringan akan dimanfaatkan untuk menyelamatkan tanaman sawit yang saat ini digunakan dalam program pemuliaan socfindo, seperti induk-induk yang digunakan sebagai standard cross dan bridge pada progeny test ataupun screening test sehingga percobaan-percobaan yang dilakukan terus memiliki koneksi atau keterhubungan sampai kapanpun. Selain itu, teknologi kultur jaringan akan dimanfaatkan untuk meningkatkan rerata ketahanan terhadap penyakit ganoderma sehingga dimungkinkan tingkat ketahanan yang akan mendekati 100%. Dengan memadukan pemuliaan konvensional (persilangan) dengan teknologi kultur jaringan, kita akan lebih mudah dan cepat mendapatkan tanaman dengan produktivitas hasil yang tinggi, memiliki ketahan terhadap berbagai penyakit dan tanaman dengan pertumbuhan tinggi yang lambat serta tajuk yang pendek sehingga populasi tanaman sawit per hektar dapat ditingkatkan. Maka, menuju tanaman elite yang super unggul akan semakin mudah dan dekat. 
 


  • Frequently Asked Questions

    1. FAQ
  • Social Media

    1. Facebook
  • Visitor