STRATEGI PEMULIAAN KULTUR JARINGAN SOCFINDO

Artikel

 
Oleh : Dadang Afandi, SP*
 
 
Untuk tahap awal, kegiatan kultur jaringan diutamakan untuk kegiatan breeding atau pemuliaan tanaman sawit di PT Socfindo. Ini dilakukan mengingat tanaman hasil klon yang berupa ramet dinilai masih terlalu mahal dan produksinya yang sangat lama dan terbatas oleh kapasitas laboratorium yang dimiliki. Belum lagi penanganan yang ekstra terhadap ramet, mulai dari transportasi hingga handling di pembibitan. Ini masih sangat sulit dilakukan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan yang ingin menanam tanaman sawit hasil klon di perkebunannya. Tetapi sulit bukan berarti tidak mungkin, karena itulah PT Socfindo menempatkan produksi tanaman klon komersial sebagai strategi jangka panjang sambil terus meneliti posibility untuk dapat dimanfaatkannya secara mudah tanaman sawit hasil klon oleh siapa saja dengan hasil yang stabil dan memuaskan. 
 
Program pemuliaan sawit PT socfindo telah dimulai sejak tahun 1913, dan saat ini telah mencapai siklus ke-3 dari pemuliaannya. Oleh sebab itu PT Socfindo memiliki banyak tanaman DxP atau Tenera terbaik (excelent tenera) di kebun percobaan progeny test (uji keturunan) sebagai kandidat untuk diperbanyak secara klonal. Hasil klon dari tenera-tenera terbaik tersebut akan ditanam dikebun  Socfindo dan diamati produksi dan karakter unggul lainnya, sembari mencari metode handling (penanganan) hasil tanaman klon yang efektif, efesien dan mudah diaplikasikan oleh siapa saja. Dari tanaman klon terbaik akan dipilih yang terbaik (produksi dan ketahanan terhadap penyakit) di kembali dikloning (reclone) untuk selanjutnya di komersialisasi (industrial production of ramets).   
 
Sembari melakukan klon dan pengujian terhadap tenera terbaik, Socfindo akan melakukan kloning terhadap tetua-tetua (Dura dan Pisifera) terbaik dari persilangan-persilangan terbaik (excellent cross) di progeny trial (kebun percobaan genetik). Strategi ini dilakukan untuk menghasilkan benih tanaman klon (clonal seeds). Benih tanaman sawit klon akan diproduksi dari persilangan tanaman yang salah satu tetuanya diperbanyak secara klonal yang kita kenal sebagai semi-clone seeds atau dengan melakukan persilangan dari tetua betina dan tetua jantan yang diperbanyak secara klon juga, yang kita kenal sebagai bi-clonal seeds. Kecambah semi-clone atau bi-clone akan lebih mudah untuk dikomersialisasi karena penanganannya yang sama persis seperti kecambah kelapa sawit umumnya. Dari segi produktivitas, kecambah semi-clone atau bi-clone tentunya akan lebih tinggi produksinya dibanding dengan kecambah persilangan konvensional karena selain induknya dipilih dari tetua terbaik, tanaman yang dihasilkan akan memiliki keseragaman yang lebih tinggi.
 
Untuk kegiatan pemuliaaan, teknologi kultur jaringan akan dimanfaatkan untuk menyelamatkan tanaman sawit yang saat ini digunakan dalam program pemuliaan socfindo, seperti induk-induk yang digunakan sebagai standard cross dan bridge pada progeny test ataupun screening test sehingga percobaan-percobaan yang dilakukan terus memiliki koneksi atau keterhubungan sampai kapanpun. Selain itu, teknologi kultur jaringan akan dimanfaatkan untuk meningkatkan rerata ketahanan terhadap penyakit ganoderma sehingga dimungkinkan tingkat ketahanan yang akan mendekati 100%. Dengan memadukan pemuliaan konvensional (persilangan) dengan teknologi kultur jaringan, kita akan lebih mudah dan cepat mendapatkan tanaman dengan produktivitas hasil yang tinggi, memiliki ketahan terhadap berbagai penyakit dan tanaman dengan pertumbuhan tinggi yang lambat serta tajuk yang pendek sehingga populasi tanaman sawit per hektar dapat ditingkatkan. Maka, menuju tanaman elite yang super unggul akan semakin mudah dan dekat. 
 

*) Penulis adalah Oil Palm Breeder di Socfindo Seed Production and Labs PT Socfindo


19 September 2015 - 08:40:15



  • Frequently Asked Questions

    1. FAQ
  • Social Media

    1. Facebook
  • Visitor