Produsen Benih Sawit Berkelas Dunia

Plantation News

 
 
SAWIT INDONESIA. Inovasi benih sawit yang dijalankan PT Socfin Indonesia secara langsung berdampak positif kepada industri sawit. Didukung fasilitas riset dan laboratorium yang menunjang produksi benih sawit yang berkualitas membuat varietas-varietas benih kelapa sawit yang dihasilkan oleh PT Socfindo banyak diminati perusahaan sawit baik dari dalam maupun luar negeri.
 
Jarak Guatemala menuju Medan yang mencapai 17.770 kilometer tidak menyurutkan semangat Gustavo Bolanos Valle dan timnya untuk berkunjung ke Bangun Bandar, kebun pembibitan PT Socfin Indonesia (Socfindo). Kedatangan Gustavo Bolanos, Chairman AgroAmerica, bertujuan mendapatkan informasi keunggulan benih sawit Socfindo. AgroAmerica adalah perusahaan agribisnis yang mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Guatemala seluas 23 ribu hektare.
 
“Kami sudah dengar bahwa Socfindo termasuk produsen benih sawit terbaik di Asia ini. Ada rencana untuk membeli benih varietas DxP La’me dan benih tahan fusarium. Untuk itu, perlu rasanya datang langsung ke Socfindo,” kata Gustavo Bolanos kepada SAWIT INDONESIA.
 
Di Kebun Bangun Bandar, Indra Syahputra, Head of Seed Production & Laboratorium PT Socfindo, beserta staf perusahaan lain mengajak tamu dari Guatemala tadi ke fasilitas laboratorium dan kebun pembibitannya. “Mereka tertarik untuk membeli benih kami. Jadi, perlu diajak melihat kegiatan polinasi secara langsung. Tamu dari negara lain sering juga berkunjung kesini,” ujar Indra Syahputra.
 
Reputasi PT Socfin Indonesia sudah dikenal tidak saja di dalam negeri melainkan sampai ke mancanegara. Pengalaman sebagai produsen benih sawit lebih dari 40 tahun menjadikan kemampuan Socfindo telah teruji. Apalagi benih yang dikembangkan selama ini berawal dari kebutuhan internal dan solusi atas masalah yang dihadapi di kebun. Eko Dermawan, Seed Sales & Marketing Manager PT Socfindo, mengatakan benih sawit memegang peranan penting untuk menunjang intensifikasi dan produktivitas. Sebab, tantangan yang dihadapi pelaku sawit kerap kali berasal dari penyakit dan iklim.
 
Guna menghadapi masalah tersebut, menurut Eko Dermawan, perusahaan aktif mengembangkan varietas benih yang berkualitas dan unggul. Contohnya saja, meneliti varietas benih yang toleran maupun tahan terhadap penyakit tertentu, lalu memiliki yield serta rendemen tinggi, dan mampu beradaptasi dengan iklim.
 
Eko Dermawan menyatakan benih yang dihasilkan Socfindo membantu perusahaan kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitas ditengah keterbatasan lahan sekarang ini. Caranya memadukan dua varietas benih Socfindo yaitu DxP La’me dan DxP Yangambi. Kedua varietas memiliki karakteristik rata-rata produksi TBS 30 - 32 ton per hektare per tahun. Dengan potensi ekstraksi minyak kelapa sawit lebih dari 26% dan kernel (inti) kelapa sawit 4,2%. Selain itu, varietas ini sangat kecil terkontaminasi Dura atau merupakan buah Tenera > 99,9%.
 
Setelah ditanam, varietas ini memiliki laju pertumbuhan meninggi yang lambat setinggi 50 cm per tahun. Menurut Eko Dermawan, daya adaptasi benih jenis ini dapat ditanam di iklim kering maupun basah. Selain itu, benih ini resisten terhadap penyakit layu fusarium dan toleran terhadap penyakit tajuk (crown disease). 
Jenis benih yang dimiliki Socfindo semakin bertambah dengan hadirnya DxP Socfindo Moderat Tahan Gano (MTG). Eko Dermawan menuturkan karateristik benih ini tidak jauh berbeda secara yield atau produktivitas dengan dua varietas sebelumnya namun sangat berbeda dari sifat ketahanan atau toleran terhadap serangan penyakit ganoderma. Semenjak tahun 2000, PT Socfindo telah mulai meneliti bahan tanaman sawit yang toleran penyakit ganoderma. Bersama CIRAD dan Sumatra Bio Science, pada tahun 2006,
 
Socfindo berhasil menemukan metode standar mendeteksi dini penyakit ganoderma pada bibitan (early screening test). Dengan ditemukannya metode tersebut, Socfindo kemudian melanjutkan pengujian ketahanan pada ratusan jenis varietas kelapa sawit terhadap serangan ganoderma secara berulang-ulang, hingga akhirnya pada awal tahun 2013, Socfindo menemukan benih sawit yang moderat tahan serangan ganoderma. Melalui SK Mentan No. 4569/Kpts/SR.120/8/2013 tertanggal 12 Agustus 2013, PT Socfindo telah memperoleh izin mendistribusikan dan memasarkan benih sawit moderat tahan Ganoderma boninense, DxP Socfindo Moderat Tahan Gano di Indonesia.
 
Toleran penyakit dan berproduktivitas tinggi sangatlah dibutuhkan pelaku sawit untuk menunjang efisiensi di kegiatan perkebunan. Indra Syahputra menuturkan dengan memiliki benih tanaman yang produksinya tinggi serta tahan penyakit akan berimbas kepada pengurangan penggunaan pestisida. Hal ini sejalan dengan standar budidaya yang diusung Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
 
Kuatnya dukungan riset ditunjukkan dengan keberadaan fasilitas laboratorium PT Socfindo. Fasilitas laboratorium tersebut antara lain laboratorium polen, laboratorium DNA, laboratorium analisis kimia, laboratorium patologi.“Kami akan membangun satu laboratorium lagi yaitu kultur jaringan untuk pengembangan material benih yang unggul produksinya,” ujar Eko.
 
Indra Syahputra menuturkan peneliti yang sekarang dimiliki perusahaan berjumlah 9 orang. Selanjutnya, perusahaan menggandeng Centre de coopération internationale en recherche agronomique pour le développement (CIRAD), lembaga penelitian di sektor pertanian dan isu lainnya yang memiliki 800 tenaga peneliti. Alhasil, kegiatan penelitian dan pengembangan benih sawit semakin kuat karena didukung institusi penelitian berskala internasional.
 
Kapasitas produksi terpasang benih sawit PT Socfindo berjumlah 50 juta kecambah. Pada 2014, rencana produksi benih sawitnya sebesar 30 juta kecambah. Eko Dermawan memaparkan pangsa pasar Socfindo diharapkan tetap menjadi mayoritas terhadap total produksi kecambah nasional tahun ini.
 
Secara keseluruhan, total produksi benih nasional tahun ini lebih rendah dari tahun sebelumnya berjumlah 138 juta kecambah. Eko Dermawan mengakui perluasan lahan tahun ini tidaklah seperti tahun-tahun sebelumnya akibat ketatnya regulasi. Faktor harga CPO yang lebih rendah memengaruhi pula kebijakan perusahaan dalam pembukaan lahan. 
Sementara itu, kapasitas produksi Socfindo Moderat Tahan Gano (MTG) sebanyak 1,5 juta kecambah. Pembeli benih ini datang dari Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Nanggroe Aceh Darusalam. Tahun lalu saja, benih jenis ini sudah terserap 1 juta kecambah. “Pembeli benih ini minimal pesan 3-4 bulan sebelumnya. Sebab benih ini diproduksi lewat proses khusus dan penyimpanan dalam bentuk dry seed,” kata Eko Dermawan.
 
Walaupun permintaan benih di pasar domestik sedang turun, tetapi penjualan benih sawit Socfindo tetap kuat di negara lain. Peminat benih sawit Socfindo datang dari beberapa negara seperti Amerika Selatan, Afrika Barat, dan Asia Tenggara, karena meningkatnya perluasan lahan sawit disana. Tiap tahun, volume ekspor benih kami mencapai 3 juta sampai 4 juta,” kata Eko.
 
Saat ini, PT Socfindo sedang menjajaki penjualan benih sawit ke Malaysia. Menurut Eko Dermawan, banyak perusahaan sawit Malaysia yang berminat dengan varietas benih perusahaaan. Untuk itulah, pihaknya sedang melakukan pengajuan kepada pemerintah Malaysia dan Malaysian Palm Oil Board (MPOB).
 
HARGA SESUAI MUTU
 
Achmad Mangga Barani, Ketua Forum Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan (FP2SB), menuturkan konsumen benih sawit PT Socfindo mengakui kualitas varietas benih sehingga mereka harus antri untuk membeli. Dengan harga benih Socfindo yang berkisar US$ 1 per butir, tetapi menurutnya, perusahaan sawit tetap berminat. 
“Walaupun harganya mahal tapi sebanding dengan mutu benih. Alhasil, benih Socfindo selalu diserap pasar,” kata Mangga Barani ketika diwawancarai di kantornya.
Achmad Mangga Barani menuturkan hadirnya benih moderat tahan ganoderma dapat menjadi solusi bagi industri sawit di masa depan. Selain aspek produksinya terbilang tinggi dengan rata-rata produktivitas TBS 30 ton per hektare. Dirinya menyambut baik kalau benih moderat gano dapat ditingkatkan supaya resisten menghadapi penyakit busuk pangkal batang.
 
Menurut Eko Dermawan, penelitian benih sawit toleran ganoderma ini terus dilakukan sehingga diperoleh yang sifatnya full resisten. Jika diperoleh benih yang resisten ganoderma maka pelaku sawit tidak perlu khawatir membuka lahan di daerah terinfeksi ganoderma.
 
Demi menjaga kualitas benih, PT Socfindo memberlakukan pemesanan langsung ke kantor pusat yang berada di Medan, Sumatera Utara. Hal ini perlu dilakukan, kata Eko Dermawan, supaya konsumen yakin dan percaya benih yang dikirim kebunnya langsung dari Socfindo. “Makanya sementara waktu belum ada pembuatan waralaba benih di daerah lain,” kata Eko.
 
Keaslian benih juga diperhatikan PT Socfindo yang menggunakan pengaman khusus melalui nomor kodefikasi. Sehingga dapat mencegah pemalsuan dan sewaktu-waktu konsumen dapat mengajukan verifikasi ulang kepada perusahaan. Saat ini, dalam proses produksinya PT Socfin Indonesia telah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008, manajemen lingkungan ISO 14001 : 2004 dan sistem manajemen keselamatan kesehatan kerja OHSAS 18001 : 2007 dalam kegiatan menghasilkan benih sawit. (Qayuum Amri/Anggar Septiadi)

18 Juni 2015 - 06:33:45



  • Frequently Asked Questions

    1. FAQ
  • Social Media

    1. Facebook
  • Visitor