PELOPOR BENIH SAWIT TAHAN GANODERMA

Artikel

PT Socfin Indonesia sukses menghasilkan  benih sawit tahan serangan ganoderma. Dapat digunakan untuk semua jenis lahan. PT Socfin Indonesia (Socfindo) membuktikan dirinya sebagai perusahan benih sawit terkemuka di Indonesia dan dunia. Untuk melindungi perkebunan dari serangan ganoderma, produsen benih ini telah merilis benih moderat tahan ganoderma. 
 
Eko Dermawan, Seed Sales and Marketing Manager PT Socfindo, mengatakan benih ini merupakan kerjasama dengan lembaga penelitian seperti CIRAD, dan perusahaan benih sawit yaitu PT PP London Sumatera Tbk.  Setelah dirilis, benih sawit ini dikenal dengan nama DxP Socfindo Moderat Tahan Ganoderma. 
 
“Benih yang kami produksi ini adalah yang pertama di dunia. Jadi, sebuah terobosan dan menjadi kebanggaan bagi Indonesia dengan penemuan ini. Apalagi, ganoderma telah menjadi momok menakutkan pekebun sawit,” ujar Eko kepada SAWIT INDONESIA.
 
Setelah melewati sidang pelepasan varietas benih pada 10 Mei 2013, yang diketuai Hasnam selaku Ketua Tim Penilai Pelepasan Varietas Perkebunan. Benih milik Socfindo ini sedang menunggu persetujuan dari Menteri Pertanian. Setelah ijin dikantungi, barulah perusahaan dapat menjual ke pasar komersial.  “Ijin dari menteri pertanian diharapkan dapat kami peroleh pada Juli,” tukas Eko.
 
Eko Dermawan menjelaskan material moderal tahan (partial resistant) relatif lebih tahan terhadap serangan ganoderma boninense dibandingkan material tanaman biasa, sesuai hasil skrining dan pengujian di laboratorium pathologi dan hasil pengujian lapangan. Uji lapangan dilakukan di parental garden, seed garden dan progeny trial. 
 
Ketahanan tanaman dari ganoderma, ujar Eko, berasal dari sifat genetik yang membuatnya tetap konsisten walaupun ditanam di tempat berbeda. “Benih moderat ganoderma dari persilangan varietas origin/famili Deli x Lame,” paparnya. 
 
Ditambahkan Eko, benih dari induk dura dan pisifera secara genetik (bawaan) sudah memiliki gen yang relatif tahan ganoderma. Sehingga, mekanisme resistensi secara aditif dari perpaduan induk jantan dan betina. 
 
Dalam uji coba di lapangan,penanaman material dilakukan di Kebun Aek Loba dan Bangun Bandar, Sumatera Utara. Mulai 1974, kegiatan penanaman sudah dilakukan di kedua kebun tadi. Kegiatan penelitian di lapangan berlangsung pada lahan tipe S1 dan S2.
 
Supaya lebih menyakinkan, benih tahan ganoderma ditanam pada berbagai jenis lahan termasuk lahan basah karena sifat yang dimilikinya bukan berasal dari modifikasi atau introduksi. Melainkan, kata Eko Dermawan,  berasal dari sifat genetik yang dimiliki material tersebut.
 
Dalam aplikasi penanaman material benih, pekebun disarankan melakukan tindakan sanitasi untuk menekan serangan ganoderma. Mesti diketahui, tingkat serangan ganoderma sangat dipengaruhi pula faktor lingkungan pula. Eko Dermawan menyarankan perlakuan yang sebaiknya dilakukan dengan pembongkaran tanaman secara mekanis yang berada dalam masa produktif dan peremajaan. 
 
Ketika aktivitas land clearing pembongkaran bole tissueharus dilakukan secara tuntas dan tidak ada yang tertinggal di tanaman.”Sistem sanitasi tersebut tidak hanya dilakukan untuk material tahan ganoderma tetapi semua jenis material,” ujarnya. 
 
Luas lahan kebun induk benih moderat ganoderma yang dimiliki Socfindo baru 3,1 hektare. Dengan jumlah induk dura 435 pohon yang berasal dari 13 famili dan telah terbukti moderat tahan ganoderma. Ke depan, kata Eko Dermawan, jumlah pohon induk yang moderat tahan ganoderma terus bertambah karena proses seleksi dan screening di laboratorium  terus berjalan.  
 
Menurut Eko, perusahaan berencana memakai teknologi kultur jaringan yang semakin memudahkan duplikasi pohon induk yang terpilih dan terbukti tahan ganoderma. 
 
Spesifikasi benih ini antara lain mulai berbuah 12 bulan setelah tanam, umur mulai panen memasuki 22 bulan. Potensi poduksi TBS dari umur 6 sampai 9 taun mencapai 31,5% kg per hektare per tahun  dengan rerata berat tandan 13 kg. Tingkat rendemen yang dihasilkan sebesar 27,4% dan inti sawit sebesar 3,2%. Potensi produksi CPO mencapai 8,5 ton per hektare per tahun. 
 
Eko Dermawan menambahkan  benih ini ditujukan kepada kebun yang telah melakukan replanting bukan kebun yang sedang dalam proses pengembangan lahan baru. Tahap awal sudah ada permintaan dari perusahaan kelapa sawit terhadap benih ini. Jumlah benih moderat ganoderma yang akan diproduksi rencananya 2 juta kecambah. 
 
“Karena manfaatnya kepada pekebun sangatlah tinggi, harga jual benih diperkirakan akan diatas US$ 1 dolar per kecambah,” kata Eko.
 
Untuk saat ini, menurut Eko, benih dijual dalam bentuk kecambah terutama kepada pembeli dari perusahan perkebunan yang memiliki tanaman dari diatas generasi kedua. 
 
Darmono Taniwiryono, Ketua Balai Bioteknologi  Perkebunan Indonesia, mengatakan sebelum masuk ke pasar komersial diharapkan ujicoba benih telah dilakukan pada multi lokasi. (Qayuum Amri)

18 Juni 2015 - 06:36:47



  • Frequently Asked Questions

    1. FAQ
  • Social Media

    1. Facebook
  • Visitor